Seni Budaya

MENGENAL PENYAIR KAMPUNG "WIJI THUKUL"

Nama “Thukul” tampaknya mempunyai pengaruh magis dan menjanjikan bagi pemiliknya untuk menjadi orang terkenal.
Waktu sekarang, kita mengenal presenter dan comedian yang terkenal dengan Istilah “Quick Think” Thukul Arwana . Penyaji salah acara pada televisi swasta yang  yaitu  4 MATA yang menurut survey menduduki rating tertinggi, mendadak “kaya raya gemah ripah loh jinawi” dan berubah pula status sosial nya.
Jangan dilupakan, kita juga punya Thukul yang lain , “Wiji Thukul” seorang penyair kampung yang tidak pernah menyangka dan berfikir untuk menjadi menjadi penyair terkenal dan mendapatkan berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri.

Wiji Thukul benar-benar tidak punya potongan seorang penyair. Wajahnya dan sosok tubuhnya lebih mirip Pedagang Asongan yang berkali-kali kena gusur atau buruh pabrik  yang sering kena PHK yang hidupnya selalu rawan pangan. (Arief Budiman-Wiji thukul penyair kampung)

Wiji Thukul lahir di sorogenen, Solo tahun 1963, anak seorang tukang becak yang sering bertengkar dengan ibunya karena setorannya kurang. Wiji Thukul menjadi sangat dikenal luas terutama oleh kalangan Aktivis, mahasiswa dan LSM karena bait bait pusinya  :

Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar
…………….
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alas an
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata  : LAWAN”
(Peringatan_ Mencari tanah lapang)

Wiji bukan bercita-cita menjadi penyair, dia berfikir menulis puisi adalah sekedar menceritakan pengalaman hidupnya . Dia ingin bercerita, berteriak,supaya didengar.
Dia menulis puisi bukan untuk menjadi penayair, tapi dia kemudian manjadi penyair karena menulis puisi. (Arief Budiman-Wiji thukul penyair kampung)

Dia tidak pernah malu punya bapak yang penarik becak,kepada kekasihnya dia berpesan :

Jangan lupa kekasihku
Jika kau ditanya siapa mertuamu
Jawablah : yang menarik becak itu
Itu bapakmu kekasihku
(jangan lupa kekasihku_ Mencari tanah lapang)

Karena perbedaan social ekonomi yang nenyolok antara tempat tinggalnya yang kumuh bersebelahan dengan perumahan yang ekonominya jauh lebih bagus, maka diapun bercerita  melalui puisinya :

Pulanglah nang
Jangan dolanan sama si kuncung
Sikuncung memang nakal nanti bajumu kotor lagi
Disirami air selokan

Pulanglah nang
Nanti kamu menangis lagi
Jangan dolanan sama anaknya pak kerto
Si bejo memang mbeling
Kukunya hitam panjang-panjang
Kalau makan tidak cuci tangan
Nanti kamu ketularan cacingan
………
Pulanglah nang
Jangan dolanan sama anaknya mbok sukiyem
Mbok sukiyem memang keterlaluan
Si Slamet sudah besar tapi belum disekolahkan
(Pulanglah Nang _ Mencari tanah lapang)

Kini Wiji thukul tidak jelas alam rimbanya (meninggal atau belum), dia diburu oleh penguasa pada saat itu ,karena Puisinya tanpa terasa menjadi duri bagi selera makan para pejabat.

DIMANAKAH KAU KINI WIJI THUKUL…….?????????????????
http://amujoko.multiply.com/journal/item/3